Oleh: sti3mata | 15 Desember 2008

Nostalgia Mading 2-3

barusan liat arsip tulisan lama gw, eh nemu nie artikel kontroversial yang bener2 ‘mengundang masalah’ (pada saat itu). Sampe gw di-sidang ama Pak Zulkifli Lubis di UKS, disaksikan Pak Kris. Silakan liat tulisan panas itu sebagai berikut :

COMMUNISM-XXX

MENCOBA MEMANDANG DARI SISI LUAR

Komunisme — seperti yang telah diketahui saat ini — merupakan doktrin politik dan sosial-ekonomi pada eks negara USSR, dan beberapa sistem pemerintahan dan partai politik di Eropa Timur (Balkan), China, dan daerah lainnya yang dapat menerima doktrin itu. Komunisme itu juga merupakan sistem politik tradisional terpusat pada negara perserikatan Sovyet dan negara lain yang dimana partai komunis memiliki kekuatan yang dominan. Sistem tersebut terasosiasi dengan semangat kebersamaan yang sangat tinggi dalam produksi, pusat perencanaan ekonomi, dan diperintah oleh sebuah partai politik. Ideologi mereka adalah Marxisme yang diinterpretasikan oleh banyak pemimpin terkemuka seperti V.I. Lenin dan Mao Tse Tsung. Dalam ekspansi pergerakannya, komunisme dunia mengakhiri riwayatnya secara naas secara mengejutkan pada awal dekade 1990-an.

1. Awal dari Segalanya

Paham komunisme merupakan perkembangan dari paham sosialisme yang muncul pada awal abad ke-19. Paham tersebut melakukan pergerakan secara terang-terangan setelah Revolusi Bolsyevik tahun 1917, dimana sebuah kelompok sosialis-revolusioner meraih kekuatan dan dukungan dari masyarakat dan menamakannya sebagai partai komunis USSR. Sejak saat itu, paham komunisme menyebar ke seluruh penjuru dunia dan dianut oleh sebagian besar negara yang mempunyai masalah ‘sosialisasi’.

Jika dipandang dari asal mulanya — tak dapat dipungkiri bahwa cikal bakal komunisme adalah sosialisme. Pada mulanya, istilah komunisme menandakan masyarakat yang ideal dimana hak milik pribadi merupakan hak milik bersama yang wajib dijaga bersama pula — persis pola kehidupan tradisional masyarakat pedesaan dahulu dimana rasa kebersamaan antara mereka sangat kuat sekali. Komunisme berasal dari kata commune yang artinya kelompok yang hidup bersama — dan jika dilihat dari hal tersebut, rasanya susah dibayangkan bahwa komunisme merupakan ajaran yang lepas dari peri-kemanusiaan ataupun keadilan. Bahkan Plato — yang diklaim sebagai ‘dewa’ tata negara dunia — mengusulkan jenis komunisme aristokratis dalam sistem kenegaraan yang diperkenalkannya kemudian, Republik.

1.1. Karl Marx — seorang yang sok tahu

Marxisme merupakan ajaran dari Karl Marx yang entah mengapa dilahirkan di bumi ini pada 5 Mei 1818 di Jerman. Ajaran dari tokoh yang gemar memelihara jenggotnya ini berintikan lima hal, yaitu : (1) pandangan tentang atheisme dan materialisme; (2) pandangan tentang dialektika; (3) pandangan tentang evolusi sejarah manusia; (4) pandangan tentang teori harta; dan (5) pandangan tentang teori nilai dan nilai lebih. Kesemua dari ajarannya disebut pandangan karena pada dasarnya dia tidak pernah menelorkan satu teori pun yang bersumber dari penalarannya ataupun pemikiran orisinilnya. Kelima inti ajaran Karl Marx ternyata merupakan adopsi tidak utuh dari para pemikir lainnya.

Pandangan pertamanya tentang atheisme dan materialisme, Marx mengambilnya dari Feürbach. Pandangannya soal dialektika, Marx mengambilnya dari Hegel. Evolusi sejarah miliknya sebenarnya merupakan teori Darwin (ehm …) yang walaupun kontroversial waktu itu tetap saja diadopsinya demi membangun citranya sebagai pemikir segala aspek. Pandangannya yang keempat dan kelima masing-masing made in Proudhon dan David Ricardo. Oleh karena itu banyak para teknokrat modern menganggap marxisme merupakan himpunan yang dibuat secara ‘licik’ dari segala sesuatu yang telah dilakukan oleh non-marxis. Ini berarti inti ideologi marxisme terbukti hanyalah suatu kerangka-kerangka kosong yang tidak orisinil.

Berdasarkan kenyataan itu, maka marxisme disusun dari bermacam-macam teori milik orang lain yang sedikit sekali dikuasai oleh penciptanya, Karl Marx. Hasilnya, ideologi marxisme tidak bisa diterapkan dalam satu paket yang utuh karena antara sistem-sistem yang membentuknya tidak selaras. Jika dipaksakan — hal ini terjadi pada penerapan total-marxisme — penyusunan dalam sistem tersebut menjadi sangat kacau. Hasilnya, marxisme yang diterapkan di Uni Sovyet semenjak Revolusi Bolsyevik, di Cina sejak Mao Tse Tsung berkuasa, di Kuba semenjak Fidel Castro mendaulat dirinya sebagai diktator di negeri kepulauan tersebut, di Vietnam, dan lainnya — terbukti tidak mampu mengangkat derajat bangsa tersebut baik dari segi ekonomi, sains, pendidikan, dan budaya.

Sayang sekali, mengapa manusia yang diberi nama Karl Marx itu terlahir sebagai seorang teknokrat. Sebagai tokoh yang menempati urutan ke-11 dalam seratus tokoh yang sangat berpengaruh di dunia, bisa dibilang dialah ‘biang’ dari lahirnya doktrin-doktrin dan sistem kenegaraan yang kacau — mulai dari komunisme hingga kapitalisme. Dan sejarah pun menyayangkan, mengapa seorang Karl Marx bisa ada di muka bumi ini — hadir dengan segala bentuk kekacauan yang menyertainya.

1.2. Kekacauan silsilah

Kalau dilihat secara nyata, bisa dipastikan bahwa cikal bakal komunisme adalah marxisme. Itu benar. Lantas di mana sebenarnya posisi sosialisme dalam garis keturunan mahzab ini ?

Beberapa dari kita banyak yang beranggapan bahwa komunisme adalah sosialis-kiri. Hal ini diperkuat juga oleh maskot sejarah terkenal dunia pada acara pengkajian ilmiah di Dagaduh beberapa bulan yang lalu, Mr. Z. Lubis. Tanpa bermaksud menyalahkan beliau, sebenarnya statemen tersebut sudah selayaknya direvisi. Bukan dikoreksi, karena pada dasarnya tidak ada yang salah.

Kita mungkin pernah bertanya, kenapa komunisme selalu ditempatkan pada haluan kiri silsilah sosialisme. Komunisme selalu dianggap sebagai sosialis-kiri. Mengapa bukan sosialis kanan, atau diunifikasi saja dengan sosialisme. Beberapa pendapat menyatakan bahwa komunisme adalah ajaran sosialis yang menyimpang. Oleh karena itu, komunisme diletakkan sebagai ‘anak hilang’ dalam garis keturunan paham sosialisme yang diletakkan dalam posisi yang disendirikan dari sosialis-sosialis yang lain. Itu pendapat umum masyarakat.

Tetapi, saya melihat sesuatu yang membingungkan dalam pemahaman silsilah doktrin ini. Dalam buku kuno terbitan 1967 yang saya temukan di bagian paling dasar rak buku saya, Oscar Lange mengutip kata-kata Stalin pada kongres komite partai yang ke-17 di Moskow, dan pendapat lainnya yang diambilnya dari buku Critique of the Gotha Programme :

“… Kita akan tetap mempunyai biaya untuk waktu yang panjang yang akan datang, hingga tingkat pertama dari komunisme, yaitu tingkat sosialisme, dari perkembangannya sudah selesai.”

— Moskwa, 26 Januari 1937

Tetapi Marx juga meramalkan fase kedua dari komunisme yaitu komunisme sensu stricto (sedangkan fase pertama disebut sosialisme) dimana pembagian pendapatan sama sekali terlepas dari jasa-jasa tenaga kerja …

Kita bisa mencerna kata-kata tersebut — bahwa sosialisme merupakan salah satu bagian dalam fase-fase komunisme. Suatu hal yang bisa dibilang bertentangan dengan pendapat umum yang telah lama berkembang dalam masyarakat. Sosialisme yang sesungguhnya — adalah bukan hanya berpegang pada prinsip-prinsip marxisme, melainkan juga pada doktrin-doktrin lain yang sejalan. Lantas, komunisme itu sendiri — oleh pelopornya, Marx dan Engels, ditempatkan dalam tingkatan puncak dari sosialisme. Sungguh sangat membingungkan.

Kalau dilihat dari siapa yang lebih duluan lahir, sosialisme memang lebih duluan muncul. Namun, Sosialisme juga lebih dahulu lahir ketimbang Marxisme. Jadi, untuk sementara bisa disimpulkan bahwa sesungguhnya komunisme muncul dari paham sosialisme yang terkena dampak Marxisme. Atau bisa jadi begini — komunisme bukan berasal dari sosialisme, namun merupakan Marxisme yang sedikit terbawa oleh sifat-sifat sosialisme.

Rupanya, Karl Marx-lah yang memang menjadikan segalanya menjadi kacau seperti ini, dan membingungkan — termasuk bagi penganut paham itu sendiri.

2. Atheis, Agamis, Sekuler, dan Agnostik

Saat ini, entah sejak kapan — komunisme selalu identik dengan atheisme. Mungkin karena dalam paket ajaran marxisme juga memuat point mengenai atheisme. Tetapi — seperti yang telah dikatakan di atas, bahwa marxisme pada prakteknya tidak bisa dilaksanakan secara total — komunisme tidak selamanya atheis, karena komunisme merupakan suatu doktrin politik dan sosial ekonomi dan bukan suatu ajaran ketuhanan.

Oke, dalam kenyataannya memang mayoritas penganut paham komunisme itu adalah seorang yang atheis. Namun, apakah itu lantas mengurangi nilai-nilai positif dari doktrin komunisme tersebut ? Bukankah di dunia ini mempunyai personal rights dimana tidak ada satu institusi pun yang berhak memaksa atau melarang seseorang untuk memiliki agama atau tidak. Lantas bagaimana dengan orang-orang komunis yang beragama ?

Pengalaman temannya Ircham[1], yang hingga kini masih dipenjara di Yogyakarta, karena beliau merupakan seorang komunis — tetapi kalau bicara masalah Islamnya, jempolan. Dia memilih mendukung komunisme karena komunisme dirasa benar-benar mewakili keberadaan kaum buruh dan rakyat kecil dalam mencari keadilan. Inti komunisme yang memang bersifat sangat kuat dan kompeten dalam hal kebersamaan membuatnya memilih komunisme dibanding doktrin-doktrin politik lainnya yang cuma omong kosong belaka.

Antara suatu doktrin dan keyakinan seseorang tidak pernah sekalipun menjalin suatu simbiosis — baik yang mutualisme ataupun parasitisme. Karena kedua konsep tersebut memang tidak dapat disamakan. Para penganut komunisme bisa saja atheis. Tetapi tidak mutlak begitu. Banyak dari tokoh-tokoh komunisme yang agamis. Tan Malaka yang sempat bertitel Haji di depan namanya, Pramoedya Ananta Toer yang sampai sekarang masih rutin ke gereja, dan masih banyak lagi.

Sekulerisme komunisme memang nyata. Karena memang ajaran komunisme tidak pernah turut campur dalam urusan antara manusia dengan Tuhannya masing-masing. Kini, malahan banyak diantara penganut komunisme Rusia yang mulai mempercayai adanya Tuhan, namun karena mereka dibesarkan dalam lingkungan atheisme — lantas mereka tidak pernah memeluk suatu agama apapun. Mereka agnostik[2].

3. Komunisme di Indonesia dan kaitannya dengan Ketetapan MPRS No. XXV/MPRS/1966

Dalam buku sejarah, komunisme dibawa masuk ke Indonesia melalui Snevlett dalam organisasi ISDV. Tanpa perlu dijelaskan lagi, komunisme di Indonesia ini cenderung berbeda dengan komunisme-komunisme di negara lain. Komunisme Indonesia merupakan perkawinan antara doktrin Marxisme dan Leninisme, yang kemudian banyak berkembang menjadi doktrin-doktrin sendiri ala Indonesia seperti Soekarnoisme, Marhaenisme, Tan Malakaisme, atau yang lain.

Melihat ke belakang melalui kacamata sejarah, dimana komunisme Indonesia yang dianut oleh PKI bersifat sangat revolusioner dengan menorehkan luka mendalam bagi perjalanan sebuah bangsa yang besar yaitu dengan melakukan pemberontakan 3 kali yang melibatkan angels of death bagi ratusan ribu rakyat tidak berdosa. Mungkin inilah yang menyebabkan komunisme seakan-akan menjadi suatu trauma sejarah bagi bangsa Indonesia secara umum.

Menyikapi ketetapan MPRS No. XXV/MPRS/1966, larangan terhadap komunisme, marxisme, dan leninisme saat ini (mungkin) dipandang berbagai kalangan tidak relevan lagi. Pasalnya, ajaran-ajaran seperti yang ditulis oleh Marx dalam Communist Manifesto dan Das Kapital hanya berisi teori dan filsafat sosial berkaitan dengan masalah ekonomi, terutama soal hubungan produksi dan pertentangan kelas. Namun, ajaran-ajaran tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar bukan saja terhadap sistem ekonomi, tetapi juga sistem politik. Ini memang aneh. Sementara pemikiran Marx — terutama soal ekonomi — kerap dianggap buruk dan ngawur, pengaruhnya tetap hebat. Khusus tentang revolusi sosial melalui kekerasan dan pengaturan sistem sosialis oleh diktator proletariat, pemikiran Marx dipertajam oleh Lenin. Tanpa andil Lenin, komunisme tidak mungkin bisa menjadi ideologi besar yang berpengaruh bagi dunia.

Kalau kita lihat dari latar belakang keinginan untuk mencabut Tap MPRS itu, motif utamanya bukan untuk membangkitkan komunisme, marxisme, dan leninisme di Indonesia — masalahnya untuk memberikan keadilan dan kepercayaan kepada rakyat yang pada saat terjadinya peristiwa berdarah tahun 1965 itu banyak yang tidak tahu apa-apa. Orang-orang yang dipaksa menyumbang bahan pangan kepada PKI, dicap sebagai antek PKI. Anak-anak keturunan rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa itu menanggung dosa PKI sampai entah berapa generasi. Itu motif utama pemerintahan saat ini — rehabilitasi, dan penegakan keadilan.

Setiap ajaran atau doktrin, tidak ada yang bersifat destruktif. Hanya, cara penerapan paham tersebut oleh para penganutnya yang mungkin menyimpang atau malah tidak sesuai dengan ajarannya. Demikian pula kasusnya di Indonesia, dan di banyak negara berpaham komunis. Mereka memahami komunis hanya setengah-setengah.

Bisa jadi, masyarakat Indonesia memang kurang cocok dengan komunisme. Namun apabila dikatakan bahwa komunisme (dengan catatan minus atheisme) bertentangan dengan Pancasila — saya kurang setuju hal itu. Karena sebenarnya banyak kesamaan antara komunisme dengan Pancasila.

Soekarno — sebagai seorang tokoh yang mengemukakan ideologi Pancasila sebagai ideologi bangsa, tidaklah mungkin mau menerima keberadaan komunisme, bahkan menelaah komunisme sebagai referensi sistem kenegaraan yang dipimpinnya, apabila memang bertentangan dengan ideologi yang lebih dahulu dikemukakannya sendiri — yang menurut pengakuannya digalinya dari nilai-nilai kultural bangsa (masyarakat Jawa) yang telah lama mengakar sejak zaman kerajaan dahulu. Soekarno adalah seorang yang idealis, dan dia mampu membela keyakinannya sampai titik darah penghabisannya. Terbukti, tulisan Indonesia Menggugat-nya yang merupakan pembelaannya terhadap pendiriannya, ataupun Nawaksara yang merupakan pembelaan terakhirnya dalam panggung politik sebelum dibelenggu kebebasannya tahun 1967.

Komunisme dalam ajaran orisinalnya, amat mirip dengan kultur kebudayaan Jawa yaitu kebersamaan, gotong royong, dan kekeluargaan. Bukankan Pancasila juga begitu. Juga filosofi jawa yang diadopsi Slank, makan nggak makan asal kumpul. Dalam ajaran komunisme, itu merupakan salah satu latar belakang perjuangan komunisme membela rakyat kecil. Dan masih banyak sebenarnya nilai-nilai positif yang dikandung oleh paham komunisme, yang sangat disayangkan sekali apabila paham tersebut dikarantina dan tidak diperkenankan untuk setidaknya dikenal oleh masyarakat. Namun, begitulah kejadiannya selama tiga dekade belakangan ini.

4. Ghozwul Fikri

Terus terang, saya kurang setuju apabila seorang yang membela, simpati, atau mempelajari komunisme dipandang lemah iman. Argumen saya, kadar keimanan seseorang yang paten tidak akan goyah hanya dengan menerima komunisme apa adanya. Mungkin masalah diterima-tidaknya paham komunisme ini bisa dikategorikan sebagai perang pikiran. Namun, sebagai makhluk yang berakal, kita tentu bisa membedakan mana yang dapat menguatkan iman, melemahkannya, atau meruntuhkan iman.

Bagi kaum yang menginginkan demokratisasi, tidak mungkin sebuah ideologi dilarang untuk berkembang. Jika sesuatu hal dilarang, maka kemungkinan dilanggar makin besar. Sama halnya dengan peraturan — makin mengikat peraturan tersebut, maka makin banyak terjadi pelanggaran atas peraturan itu. Ini penalaran yang saya dapatkan dari Gilang. Sebagaimana pasir yang ada dalam genggaman tangan, apabila genggaman tersebut dipererat maka makin banyak pasir yang akan berjatuhan keluar. Seandainya, komunisme dibiarkan saja dan tidak dilarang, dibatasi pergerakannya, dikucilkan — bisa saja komunisme tidak laku seperti yang kini terjadi di Rusia.

Perang dalam pikiran — masalah meruntuhkan keimanan seseorang, itu tidak bisa dinilai dari pendapat seseorang yang mungkin tidak lazim, seperti memandang komunisme itu baik, atau tidak bertentangan dengan nilai-nilai perikemanusiaan. Yang dilihat di sini, latar belakang pendapat tersebut — apakah memang shahih atau cuma omong kosong. Bukan masalah lazim tidaknya. Sayang, baru segelintir orang yang bisa mencapai taraf pemahaman tersebut. Yang umum dijumpai, pendapat yang dipenuhi dengan kefanatikan semu tanpa menggunakan akal sehat.

Kalau saya renungkan pencerahan yang saya dapat dari Gilang, bahwa semakin kita terbiasa dengan suatu hal, di mata kita hal tersebut menjadi semakin baik — saya kira hal itu bisa dibilang benar. Namun, selama kita tidak melepaskan asas-asas kebenaran dan mengesampingkan ego atau kefanatisan semu — saya pikir tidak ada masalah untuk itu. Kuncinya, bekal iman dan takwa yang cukup dan akal sehat.

5. Penutup

Komunisme — bukanlah suatu ajaran yang tidak baik, karena tidak ada ajaran yang tidak baik. Kesalahan yang ditimbulkan selama ini dari ideologi tersebut adalah faktor manusia. Para penganut ajaran ini yang rata-rata kurang mengetahui apa sebenarnya komunis itu yang telah mengesampingkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam ajaran tersebut, sehingga secara langsung justru memojokkan komunisme dalam posisi yang terkucilkan.

Satu-satunya cara yang tidak merugikan yang bisa ditempuh sebenarnya adalah dengan mengenalkan apa sebenarnya komunis itu, landasan-landasan ideologinya, tujuan, serta cita-cita perjuangannya. Perlu diketahui, komunisme merupakan salah satu karya besar yang pernah dibuat manusia yang mencakup segala aspek kemasyarakatan yang ideal, yang jarang ditemui dalam sistem pemerintahan modern. Dengan mengenalkannya, minus nilai-nilai atheisme yang sama sekali tidak baik, kesalahpersepsian tentang tujuan ideologi komunisme bisa dikurangi.

Masalah trauma sejarah yang pernah dilakukan partai komunis — yang patut diklarifikasi adalah PKI-lah yang mengagungkan ideologi atheisme, dan inilah yang membuat kesenjangan — bahkan permusuhan antara Islam dan PKI (atheis). Namun, kembali pada falsafah Islam itu sendiri, lakum dienukum waliyadiin, bagimu agamamu bagiku agamaku — masalah ini tidak usah berlarut-larut.

Yang membuat berlarut-larut, apabila sampai saat ini masyarakat masih sama sekali buta mengenai komunisme. Penyeragaman persepsi terhadap komunisme yang selama ini dilakukan sudah saatnya dihapuskan. Dengan membiarkan komunisme bebas, belum tentu kekuatan atheisme akan bangkit dan mengancam Indonesia. Malah, yang mungkin terjadi adalah unifikasi antara nilai-nilai positif dari komunisme dengan sistem yang ada sekarang. Kalau ajaran Karl Marx yang banyak ngarut saja hingga sekarang masih nongol dalam kurikulum ekonomi kita, masa’ komunisme aja enggak ?

Tapi ada satu catatan kaki yang nggak boleh diabaikan — persiapan mental dan keimanan masyarakat dalam menghadapi banyak kemungkinan yang terjadi dengan pembebasan komunisme, bahkan persiapan menghadapi kemungkinan terburuk. Itu salah satu kunci untuk tetap aman dan dalam jalur yang benar.

a“b

KEPUSTAKAAN

Anonim, Groiler Family Encyclopedy Vol. 5, Groiler Incorporated, Connecticut : 1997.

Anonim, Komunisme, Suara Hidayatullah 12/XII/April, Balikpapan : 2000.

Djaelani, Abdul Qadir, Kebangkitan Komunisme Indonesia, Tekad No. 22/Tahun II, 3-9 April, Jakarta :2000.

Hadzik, M. Ishom, NU, Komunisme, dan Trauma Sejarah, Tekad No. 23/Tahun II, 10-16 April, Jakarta : 2000.

Kansil, CST, PPKn Kelas 2 SLTP, Erlangga, Jakarta : 1996.

Lange, Oscar & Fred M. Taylor, Teori Ekonomi Sosialisme, Bhratara, Jakarta : 1964.

Magnis, Franz, Pemikiran Karl Marx — Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta : 1999

Morgenthau, Hans J., Politik Antar Bangsa, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta : 1990.

a“b

Special thanks to Pitra, Gilang, Radita, Inna & Inne, dan kawal sparring tersayang : Ashari Amis

Persembahan khusus buat Team DAGADUH 2000 yang selalu pro terhadap pemikiran saya..


[1] Bapaknya Pitra

[2] Suatu sebutan bagi orang-orang yang mempercayai adanya Tuhan, namun tidak memeluk satu ajaran agama apapun. Terutama didasari karena mereka belum mendapatkan ajaran agama yang dapat mereka terima dengan akal sehat, atau mereka masih dalam pencarian ajaran yang benar. Einstein, Galileo, dan Newton merupakan contoh dari segelintir tokoh-tokoh terkenal yang agnostik.

Iklan

Responses

  1. Hiks..hiks..hiks…ada namaku tiga kali disebut..untung aku kada dipanggil Pak Zul…

  2. mungkin pak zul waktu itu merasa msh ada yg menganut paham komunisme, shg beliau marah n menyidang.
    ato beliau merasa “tersaingi” ilmu sejarahnya, jd dia mau “menekan”, kaya zaman orba aja. ^_^
    tapi sisi positifnya, bisa jadi memang pahamnya tidak salah, tp manusia (kitanya) yg salah.
    Salute buat erqee n 2-3 nya..

  3. shock diriku melihat tulisan itu lagi ….jadi trauma……..hehehehehe……….untung tidak berpengaruh pada nilai sejarah keluarga besar 2-3 hehehehehehe…………….

  4. Hallo … Xixixi, saha nyak? name plz


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: